*Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu.*

Dia adalah putra dari ‘Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Ia masih terhitung sebagai saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beberapa saat setelah dia lahir, ibunya membawanya ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mentahniknya dengan kurma yang telah dikunyah Rasulullah. Itulah benda yang pertama kali masuk kedalam mulut ‘Abdullah bin ‘Abbas, seiring dengan masuknya ketakwaan dan hikmah. *”Dan barang siapa diberi hikmah, maka ia telah mendapatkan suatu kebaikan yang sangat banyak.”* (QS. Al Baqarah : 269). Sejak kecil Ibnu ‘Abbas sangat menyayangi Rasulullah. Dia senantiasa bermain di dekat Rasulullah dan dia gemar sekali mengerjakan sesuatu yang menurutnya menyenangkan hati Rasulullah. Ketika dia mengetahui bahwasanya Rasulullah hendak shalat, maka segera Ibnu ‘Abbas kecil itu menyiapkan air wudhunya. Dia juga segera berada dibelakang Rasulullah ketika beliau shalat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat sayang kepada Ibnu ‘Abbas hingga beliau sering menepuk nepuk bahu kecilnya seraya berkata : *”Ya Allah, karuniakanlah hikmah kepadanya.”*
Ibnu ‘Abbas kecil juga sering diajak ikut Rasulullah dalam safar. Hingga si kecil itu banyak sekali menimba ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat, usia Ibnu ‘Abbas belum genap 13 tahun. Dan semenjak Rasulullah wafat, masa remajanya dihabiskan untuk belajar sungguh sungguh dari para sahabat Rasulullah. Pernah dia menceriterakan pengalamannya : “Aku pernah bertanya kepada 30 orang sahabat Rasulullah mengenai satu masalah.” Meskipun usianya masih muda, namun sejarah mencatat bahwasanya ia telah menghafal 1.660 hadits. ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu berkata tentangnya : “Anak ini layaknya seorang dewasa yang lisannya penuh pertanyaan dan hatinya penuh ide dan ilmu.”Sa’ad bin Abi Waqqash berkata tentangnya : “Tak seorangpun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berpikir dan lebih banyak menyerap ilmu dan lebih luas sifat santunnya dari Ibnu ‘Abbas. Dan sungguh, kulihat khalifah ‘Umar sering memanggilnya dalam urusan urusan pelik. Padahal disekeliling khalifah masih banyak pejuang Badar dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Dan khalifah ‘Umar tidak hendak melampaui apa yang dikatakannya.” Pada masa khalifah ‘Ali Radhiallahu’anhu, Ibnu ‘Abbas meminta ijin untuk mendatangi kaum khawarij yang senantiasa memusuhi khalifah. Syaidina ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhu sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Ibnu ‘Abbas berkata : “Tidak akan terjadi apa apa, Insya Allah.” Maka terjadilah dialog antara Ibnu ‘Abbas dengan pasukan khawarij yang berjumlah 24.000 orang. Berbagai pertanyaan, bantahan hingga fitnah fitnah yang ada dalam pikiran kaum khawarij dijawab dengan dalil dalil Al Qur’an dan hadits yang dijelaskannya dengan gamblang, tegas dan lurus hingga mencairlah fitnah fitnah yang ada dalam pikiran kaum khawarij. Hasilnya, 20.000 orang kembali kedalam pelukan agama Islam yang lurus, sebagaimana pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Ketika dia sudah merasa banyak sahabat Rasulullah yang telah dia datangi dan ketika menyadari bahwa banyak sahabat Rasulullah yang telah wafat, maka dia lebih membaktikan hidupnya untuk mengajar. Rumahnya menjadi universitas bagi para penuntut ilmu dijaman generasi tabi’in. Rumahnya menjadi kebanggaan bangsa Arab di masa itu. Ribuan orang senantiasa memadati jalan yang menuju rumahnya hingga jalan jalan itu menjadi padat dan merayap. Ibnu ‘Abbas bukanlah termasuk orang yang berbicara saja tanpa mengamalkannya. Ia bukan termasuk orang yang melarang kemudian melanggarnya. Bahkan Ibnu ‘Abbas adalah pribadi yang banyak berpuasa pada siang hari dan bangun untuk shalat di waktu malam hari. ‘Abdullah bin Mulaikah mengisahkan : “Suatu ketika aku menemani Ibnu ‘Abbas dalam perjalanan dari Mekah menuju Madinah. Ketika kami singgah di suatu tempat, Ibnu ‘Abbas berdiri di pertengahan malam. Ia tegakkan shalat sementara manusia terlelap tidur karena capai yang mengalahkan mereka. Suatu malam aku mendengar ia membaca ayat : *”Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar benarnya. Itulah yang engkau selalu lari dari padanya.”* (QS. Qaaf : 19).. ia mengulang ulang ayat ini…sambil menangis… hingga fajar. Ibnu’Abbas wafat dalam usia 71 tahun dan Muhammad bin Hanafiyah (cucu syaidina ‘Ali Radhiallahu’anhu) menshalatinya bersama para sahabat Rasulullah yang masih tersisa ditambah para pembesar dan para tokoh tabi’in. Ketika mereka mulai melemparkan tanah untuk mengubur Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, terdengar sayup-sayup suara bacaan …. *”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb mu dengan hati puas dan diridhai. Maka masuklah kedalam bagian hamba hamba KU dan masuklah kedalam surga KU.”* (QS. Al Fajr : 27- 30).

Sumber :
1. *Sirah Sahabat jilid 1*, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Pustaka Al Haura’.
2. *Karakteristik 60 Sahabat Rasulullah*. Khalid Muhammad Khalid. Penerbit CV Diponegoro.

●Abdullah bin Abbas RA●